1 PRINCE & THE PAUPER (Part 1)

“Sheeva, kemari sebentar…mereka butuh bantuanmu.” Panggil seorang ibu  dengan wajahnya yang tampak lusuh dan lelah ia mengenakan baju tunik berujung sobek-sobek dan berlumuran darah, bercampur antara darah segar dan darah kering, kepada Sheeva yang sedang berada di dalam tenda peristirahatan anak-anak terlantar dari desa Tili dan sedang berusaha untuk menidurkan mereka.

“Baik!” Jawabnya, dia segera ketempat itu dari tenda anak-anak yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia beranjak, lalu langsung masuk ke sebuah tenda usang dengan atapnya sudah sedikit robek, tenda berwarna coklat muda dengan beberapa bercak darah kecoklatan di kainnya, wanita dengan wajah lelah tadi langsung menggiring Sheeva, disana ia menemukan seorang anak dengan topi kulit buluk dan terlihat seperti anak lelaki, anak itu terus menangis berusaha untuk membangunkan ibunya yang sudah terbujur kaku di sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu dan kain sangat lusuh, karena sudah berkali-kali dicuci. Melihat keadaan ini, Sheeva berkata pada dirinya sendiri bahwa peperangan ini sudah banyak memakan jiwa orang – orang yang tidak bersalah, dia menatap ke anak itu, memeluknya, dan berkata.

“Tenang saja, ibumu sudah tenang di bintang sana” setelah dipeluk olehnya anak itupun diam dari jeritannya dan hanya menangis terisak perih, Sheeva memang memiliki speasialisasi yang unik, yaitu mengontrol emosi dan perasaan seseorang bila ia menyentuhnya, namun Sheeva tau pasti kapan harus menggunakannya, lagipula spesialisasi ini tidak seratur persen akan manjur ke seseorang yang merasakan perasaan sesungguhnya.

“Boleh tau siapa nama mu?” Tanya Sheeva dengan sangat lembut kepada anak itu, anak itu memiliki mata secerah langit namun dengan raut wajah seperti badai yang terkoyak antara kesedihan, kemarahan, dan keperihan.

Butuh waktu lama setelah anak itu menatap matanya dan mulai membuka mulutnya dan berbicara.

“Nama?” Tanya nya

“Namaku Sheeva aku seorang sukarelawan disini…dan nama mu adalah?” jawab Sheeva

“Nama….mama biasa manggil…Numelina” jawabnya terbatah dan terisak, tampak dari sinar matanya bahwa anak itu sudah kehilangan keceriaanya, siapa yang tidak? Dikala dia bermain, dia melihat ibunya dibantai oleh para prajurit Mal Sirea secara keji, Sheeva tidak ingin memanipulasi perasaan anak itu agar anak itu terlihat ceria lagi seluruhnya, karena dia megerti apa yang telah dilalui oleh anak itu dan seburuk papun itu anak itu harus memperbaiki perasaannya sendiri.

“Ohh kau seorang anak perempuan! Dan memiliki nama yang sangat bagus, aku akan memanggilmu Numelina” seru Sheeva kepadanya,

“Nume mau ketemu mama…Dimana mama Nume?” sambil terisak dan menangis dia bertanya

Sheeva membawa anak itu keluar tenda pengungsian dan menenangkannya dimalam yang dingin dan penuh dengan bintang itu sambil berkata. “Mama Nume sudah tenang di atas sana.”

“tahu tidak? Mama Nume sudah menjadi salah satu bintang di atas sana?” jelas Sheeva lembut.

“Uhm? Kok bisa?” seru anak itu sambil menggeleng dan menghapus air matanya dan membuka topi kulitnya, terurai lah rambut hitam panjang selembut sutra dan seketika itulah menyembul kedua telinga kelinci nya yang indah seputih salju, bulu halusnya begitu lembut mengusap rambut dan ujung topinya.

“Aku tidak bohong…lihat bintang baru terang disana? Itu adalah bintang dari jiwa mamanya Nume, jadi nume harusnya bangga karena walau Nume sudah tidak bisa memeluknya namun mama akan selalu ada disana menjaga Nume dan memperhatikan Nume, jadi kalo Nume nakal dan terus menangis seperti ini mama nya Nume pasti kecewa dan marah.” Jelas Sheeva dengan lemah lembut sambil memberikan anak itu segelas susu dan sepotong roti sembari mendudukkan anak di pangkuannya, serta menyelimutinya dengan selimutnya yang tebal dan berwarna biru tua itu.

“Iya kak… mama pasti marah kalo Nume nakal ama nangis terus” jawabnya sembari mengigit sedikit roti yang diberikan Sheeva.

“Benarkan? Jadi ayo semangat” kata Sheeva sambil memberi semangat.

“iyah…kak, kakak Sheeva tau tidak? Nume janji enggak akan nangis lagi dan akan menjadi seorang Khanr eh bukan….Nume mau menjadi seorang Valkirie terhebat sepanjang masa dan buat mama bangga” serunya semangat, sambil berdiri dan langsung menghabiskan segelas susu hangat yang diberikan Sheeva.

“ia kakak percaya Nume bisa…ayo kita masuk ke tenda dan tidur bersama teman-teman baru Nume, besok kakak akan mengenalkan Nume kesemua teman baru Nume” ajak Sheeva kepada anak Khanr itu, anak Khanr kelinci yang memakai baju biru muda dengan pita terjulur dari belakang bajunya yang berwarna merah pekat, Sheeva juga merapikan rambut hitam pekat dan sehalus sutra itu. Lalu segeralah ia membaringkan anak itu di tempat tidur yang tersisa di pojok kanan tenda anak-anak.

Rasa lelah menghampiri Sheeva, ia baru saja keluar dari kemelut hati seorang Numelina. Tampaknya anak itu akan cepat siuman, perasaannya memang rapuh karena dia seorang wanita kecil dengan penanggungan beban sebesar orang – orang yang menyebabkan seluruh kekacauan ini terjadi… Valenor.

******

(nb :  Maaf saya membuat part pada bagian chapter dikarenakan setiap chapter memiliki halaman yang cukup banyak, jadi mohon di mengerti)

5 thoughts on “1 PRINCE & THE PAUPER (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s