1 PRINCE & THE PAUPER (Part 2 ‘end’)

Avalent, salah satu ibukota para pemimpi, petualang dan seluruh kesatria hebat mencari jati diri…

‘Tok…Tok’ seseorang mengetuk pintu kamar Eric yang megah dan sangat mewah, khas berwarna serba merah elegan, dengan pintu dan jendela yang berbalut kayu dan emas terbaik, karpet dengan rajutan rapi dan indah, Eric duduk di tengah kamarnya menghadap ke sebuah perapian besar dengan pahatan batu-batunya dan tersusun begitu sistematis, perapian itu sendiri diapit oleh jendela-jendela besar nan megah. Cahaya mentari sore begitu indah masuk menusuk seluruh ruang remang tersebut dengan kilau keemasan bersahaja.

Seorang penjaga dengan tampang tak berekspresi masuk setelah dipersilahkan oleh seseorang dengan perawakan seperti seorang kepala pelayan.

“Yang mulia, tuan perdana mentri dari Avalent, perdana mentri Gustave, ingin segera bertemu dengan anda Yang Mulia.” Seru pengawal tadi dengan menggunakan pakaian penjaga yang berwarna perak dan merah, artinya dia adalah utusan pembawa pesan dari dalam istana, sembari berlutut di depan pintu dia menyampaikan pesan itu.

“Apa yang dia mau?” Aku sudah menolak berkas surat atas pengajuan menempah senjata baru itu.” kata Eric angkuh untuk menunjukkan wibawanya sambil membalikkan badannya kearah jendela, namun memalingkan wajah sekiranya ke pada pembawa pesan tersebut.

“Hamba tidak yakin apa urusan beliau Yang Mulia” Jawab pengawal tersebut tanpa menatap kearah Eric sedikitpun.

Eric hanya bisa menghela nafas dalam “Katakan padanya temui aku di Golden Hall sore ini!” sambil melambaikan tangannya, tanda mempersilahkan pengawal itu untuk menyampaikan pesannya kepada Gustave.

“Baik Yang Mulia, hamba undur diri” Jawab pengawal itu tegas, lalu ia pun berdiri berjalan seanggun mungkin sehingga tak ada suara sedikit pun dari derap langkah kakinya, lalu sosok nya pun menghilang di balik pintu dan dinding kamar Eric sang Pangeran Avalent.

Eric menghirup nafas dalam sekali sambil menutup mata, sessaat dia menghelanya, segumpal asap seperti uap dari corong kendaraan uap berbentuk kereta api, keluar dari mulut dan hidungnya. Dia tau dan teman-teman nya juga tau kalau itu tanda Eric
sudah menahan amarahnya yang meledak-ledak, Eric adalah seorang dengan hati sebesar lautan Aravun, terlintas kata – kata Sheeva membuat senyum simpul kecil di sudut bibir Eric yang kemerahan .

Eric bisa menebak kalau perdana mentri Gustave ingin kerajaan itu menginvasi kerajaan Ateshire yang sudah kalah telak dari kerajaan Avalent nya pada perang dua bulan lalu. Bagi Eric melumpuhkan seluruh pasukan mereka dan memonitor pemerintahan mereka sudahlah cukup, membiarkan para keluarga tetap bersama, anak – anak memiliki masa depan dan pembelajaran yang benar tentang apa yang sedang terjadi serta mendapat perlindungan yang tepat itu sudah lebih dari cukup. Kerajaan Avalent berada di tenggara kerajaan Ateshire, di seberang sungai Deliyah yang jaraknya cukup jauh dari desa terujung Avalent yaitu desa Deletantia. Ateshire bisa ditempuh selama 1 hari setengah jika berjalan kaki dari Deletantia. Gustave juga mengusulkan untuk membuat senjata jenis baru yang sangat mematikan, senjata pemusnah massal. Senjata tersebut masih dalam tahap percobaan dan masih berada di dalam sebuah perkamen sketsah, tapi ini lah tugas nya, mencegah semua orang terlalu berlebihan dalam menginovasi senjata perang mereka.

Eric berjalan bersama beberapa pengawalnya serta beberapa orang kepala pelayan, mereka berjalan bergiring di setiap sisi pandangan Eric yang selalu berfikir kalau setiap lorong yang mereka lewati begitu dingin dan suram dengan dinding tebal berbatu, namun ada pula bagian dimana sinar  matahari masuk melalui celah kecil jendela tsetinggi atap istana yang berhiaskan ukiran dan kain gorden beludu yang kelihatannya sangat kokoh dan bersih.

Golden Hall adalah bagian dari istana Avalent, dimana seluruh aula dipenuhi dengan ukiran-ukiran sejarah berdirinya kerajaan tersebut yang berbalut emas dan permata, dan pilar-pilar megah besar dan indah, dahulu para ahli sejarah berkata bahwa ukiran tersebut dipersembahkan dari para elf di Grand Realm untuk menghormati berdirinya kerajaan Avalent beberapa ribu tahun lalu, seluruh jendela di Golden Hall kacanya terbuat dari Kristal yang sangat sempurna sehingga saat cahaya menerpa masuk kedalam Golden Hall terlihat begitu keemasan dan berkilauan.

Golden Hall merupakan salah satu dari 3 balairung yang ada di istana Avalent, dari setiap balairung terdapat ukiran indah dari masa sebelum kejayaan kerajaan Avalent. Tapi Eric tau, dia sudah hidup sedari masa sebelum para Elf itu bisa berbicara kepada penghuni hutan Tornrell. Sebagian kisah Avalent adalah kebohongan publik, hanya dikarang untuk menampakkan sinar cahaya kejayaan Avalent yang sudah menjadi sebuah kerajaan megah, sukses, dan besar tersebut. Lelaki berperawakan tinggi tegap dengan wajah menawan ini bukanlah seorang biasa yang lahir dari rahim seorang wanita ras manapun, namun tak ada seorang pun diruangan ini yang mengetahui hal tersebut.

Saat memasuki Golden Hall tersebut dia sudah melihat sosok perdana mentri Gustave, ia ada disana berdiri dengan mata coklat piciknya, senyum dengan niad buruk bersarang di setiap sudut bibirnya dan dengan baju kebesarannya, dia selalu membangga-banggakan jubah itu kepada setiap orang yang mau duduk dan mendengarkan cerita itu untuk kesejuta kalinya, katanya terbuat dari kulit ogre terganas saat perang di Amagul’s Gate 12 tahun lalu, jelas itu bukan kulit ogre terkuat Eric tau itu.

“Oh yang mulia Pangeran yang tersempurna, semoga hidup anda di berkahi seribu dewa dan Valar[1], dan anda diberi umur panjang” sambut perdana mentri Gustave sembari membungkukkan dadanya dengan perut besar dan gendutnya itu yang mengganjal.

“Terima kasih Perdana Mentri Gustave silahkan duduk” Jawab Eric dengan senyum sedikit dipaksakan. Sembari duduk di sebuah singgasana mini, walau mini singgasana ini berukuran cukup besar untuk seorang Eric, di depan singgasana berukir indah serasi dengan ukiran di seluruh Golden Hall ini, terdapat sebuah meja bundar besar. Setelah Eric menjabat, ia berpikir tidak dibutuhkan banyak balairung singgasana untuk seorang pangeran yang belum sah menjadi raja, jadi ia memerintahkan para pelayan dan seluruh orang untuk mendekor ulang 2 balairung lagi Golden Hall ini dijadikan sebuah tepat pertemuan dimana seluruh pertemuan sang pangeran yang bersifat rahasia dan penting untuk negrinya di adakan. Yahhh pertemuan semacam ini juga.

“Ahhh saya sangat senang sebagai perdana mentri sudah diundang ke Golden Hall yang melegenda ini, saya harap’ ~ bla bla bla” sangat panjang pujian di haturkan kepada Eric, namun bagi eric itu hanya pujian palsu dan senyum palsu itu juga imitasi, dari mata Gustave Eric tau kalau diantara semua pujian itu ada maksud terselubung yang sangat jahat dari perdana mentrinya sendiri. Salah satu kelebihan Eric dia bisa membaca maksud tertentu dari seseorang.

“Ah anda terlalu memuji Perdana Mentri Gustave” Jawab Eric.

            “Hahah anda sangat merendah Yang Mulia.” Kata Gustave

“Baiklah langsung saja. Ada apakah gerangan ini? Sehingga anda merelakan waktu anda yang berharga untuk menemui ku?” Tanya Eric tegas, dengan wibawanya dia langsung menatap mata Gustave.

“Ahhh…seperti anda sudah tahu maksud kedatangan hamba ke istana, baiklah kalau begitu saya akan langsung saja.” Sambung Gustave

“Apa itu?” Tanya Eric

“Saya bertanya-tanya dipikiran saya mengapa Anda menolak surat permohonan untuk pembuatan senjata jenis baru ini? dan satu lagi, mengapa anda tidak ingin menginvasi Gustave dengan kata-kata lembut nan tajam.

“Karena kita sudah cukup melumpuhkan pasukan mereka dan kita juga sudah mengambil alih pemerintahaan mereka. Dan mengapa aku melarang pembuatan senjata jenis baru itu? Karena senjata itu sangat mematikan, senjata pemusnah massal. Kita tidak bisa mengambil resiko kalau senjata itu memusnahkan para penduduk yang tidak ikut kedalam perang kita, memang mudah untuk mengklaimnya itu milik kita, tapi aku tidak mau mengambil keputusan gegabah apalagi bila senjata semematikan itu disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab” Jawab Eric tajam menatap mata Gustave langsung, Gustave merasakannya, tatapan Eric langsung menembus ke dalam jiwanya menusuk pikiran piciknya. Eric tau jika dia mengesahkan Senjata Jenis itu maka Gustave akan menggunakannya untuk menginvasi kerajaan-kerajaan sekitar demi kepentingannya sendiri dan membuat penduduknya menjadi budak kerjanya, itulah yang harus diubah nya di kerajaan ini.

“Tetapi Yang Mulia, ah….Hamba…Hamba hanya ingin kerajaan ini unggul dari kerajaan – kerajaan lain di negri ini, dengan senjata itu kita tidak akan terkalahkan. Yang mulia hamba yakin anda sudah memikirkannya matang-mat…”Jawab Gustave terbata namun di sela oleh Eric dengan Nada tinggi.

“Sekali tidak tetap tidak!? Itu sudah keputusan mutlak ku!!!. Bila kau membantah maka aku tidak akan segan mengeluarkanmu dari jabatan perdana mentri secara tidak hormat!!!” kata Eric tegas

Terbata tetapi berusaha melanjutkan keyakinannya Gustave menjawab “sa..sa…ah maksud hamba, hamba mengerti Yang Mulia” Gustave dengan nada rendah dan takut, terlihat sekali dia sangat takut dari keringat yang bercucuran dan wajah dan tanganya, dan juga tatapannya yang hanya bisa menghindari mata Eric.

“Dan sekarang pergilah!, aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita dibicarakan” Perintah Eric lagi sembari membalikkan punggungnya kearah Gustave, dia juga bisa merasakan kemarahan Gustave yang memuncak namun rasa takut juga menyelubungi nya, setiap sudut mata Gustave membentuk gurat kemerahan dan dia pun pergi. Dan berkata

“Hamba undur diri yang mulia” Dengan suara setengah gemetar ntah karena menahan marah atau takut. Yang Eric tau akhirnya Gustave yang menyebalkan itu pergi dengan di kawal oleh para pengawal besar dan tegap nya itu, dengan armor mereka dikenal bernama Stiletto Armor yang ditempa ekslusif oleh seorang ahli baju pertahanan terkenal di Avalent, tampak detail sebagai tanda dari seorang jenius penempa baju zirah terkenal.

Eric pun dengan sedikit pikiran yang penuh akan makna dari pertanyaan Gustave tadi keluar dari balairung emas dan berjalan ke arah taman. Ditengah jalan menuju taman tiba-tiba pengawal kepercayaanya Joko Strisse muncul entah darimana, menyela dan menghadapnya sambil berlutut.

“Hamba datang dari bagian utara terjauh desa Tili. Menyampaikan pesan untuk Pangeran Ericht Emerich” suaranya yang dalam dan hampir seperti berbisik membahana keseluruh lorong yang di lewati Eric.

Tanpa di aba – aba kan para pengawal serta pelayan yang membututi Eric langsung undur diri dengan gemulai dengan rasa hormat berjalan menjauhi Joko dan Eric, mereka sepertinya sudah hapal apa yang harus di lakukan kalau – kalau Joko datang menghadap.

Setelah mereka berdua berada di sebuah taman dengan bunga mawar langka berwarna biru lambang kejayaan negri Avalent, menghiasi seluruh sulur kehidupan kecil yang aman, nyaman dan tenang di taman ini.

“Hamba melapor Yang Mulia” suara Joko yang khas dengan logat seorang Khanr timur memecah keheningan taman itu. Perangai nya yang sedikit lembut kelihatan juga ketika berbicara dengan Eric, walau dia terkenal pendiam dan tak banyak omong. Tapi yah itulah sumpah seorang Valkyrie pribadi.

“haaaaahhhh~ …. Kau tahu Joko? Cuma di depan mu aku bisa menjadi diriku sendiri” Helaan panjang nafas Eric memecah keheningan dan kewibawaan yang sedari tadi ia sandang bersama para pelayan dan pengawal pribadinya.

Joko hanya mengangguk lembut sembari tersenyum di balik kain tipis penutup wajahnya. Namun senyum itu begitu manis dan kentara sekali dia senang mendengar tuannya kembali dari balik topeng besi yang tuannya pasang setiap saat dikala ia bersama orang lain, Joko juga senang hanya kepada diri nya Eric menunjukkan sifat asli. Sifat yang sebenarnya tidak pantas untuk seorang dengan titel Pangeran Avalent.

Eric menghempaskan dirinya ke sebuah bangku taman secara serampangan dengan hiasan sulur mawar tanpa duri tersebut. Ukiran valar dengan jelas menceritakan bagaimana para valar tersebut turun ke Lig hanya untuk membuktikan bahwa Emeraude salah. Setidaknya itulah pikir Eric.

“Oh ya… Bagaimana dengan dia?, Kau dari tadi belum mengatakan apapun…Kau tau? Aku sudah hampir mati menunggu kabar mu tentang ‘Dia’. Kami kan tidak diperbolehkan menggunakan Cirel setiap saat. Eligna bisa membekukan tulang belakang ku ini kalau aku melanggarnya?” Sela Eric mengguncang Joko dari lamunan bahagianya.

Eric bukanlah seorang penyabar yang baik, dia akan terus mengoceh kalau Joko tidak menyela seluruh pertanyaannya.

“Gadis penjual buah dari desa Tili itu baik – baik saja Yang mulia. Rombongannya sedang menuju ke arah Grand Realm. Saya sudah memerintahkan beberapa orang bawahan saya untuk mengawasi mereka secara diam – diam.” Sela Joko, dia sudah terbiasa menyela seluruh pertanyaan Eric yang membuat kepala semua orang pusing. Tetapi Joko adalah sosok kebalikan Eric, dia merasa dirinya saling melengkapi dengan Eric, begitu pula Eric karena itu Joko adalah satu – satunya bawahan Eric yang mengetahui seluruh Plot rencana Elementers untuk mendamaikan LIG.

Memang Raven dan Varundro menyarankan agar mereka semua setidaknya mempercayai satu orang bawahan atau teman dekat untuk menceritakan seluruh rahasia mereka, dan pastinya Eric dengan mudah menemukan orang tersebut berhubung spesialisasinya bisa membuka pikiran serta kegelapan hati seorang biasa. Tetapi Eric tidak menemukannya dalam hati seorang Joko Strisse, lelaki dengan tatapan sebeku es abadi, dada bidang dengan berbagai macam torehan luka kisah kehidupan perjuangannya untuk mencapai apa yang ia inginkan, namun dibalik itu semua Eric melihat kedalam hatinya terdalam tertoreh luka dengan nafas keluguan dan pikiran seorang anak kecil terbata menatapnya dengan rasa ingin melindungi.

“Ooohhhh….aku rasa…Shee akan baik – baik saja disana ya? Dia kuat, menantang seluruh halangan dengan senyum keberanian.” Suara Eric melembut ketika menyebutkan kata ‘Shee’ sejenak Joko terhipnotis oleh senyum lugu Eric, bibirnya yang merah merekah di antara mawar biru yang beku walau dengan bara matahari sore, matanya yang sebiru mawar sama sekali tak tampak beku melainkan menggambarkan bara api terpanas, hidung mancung dan pipinya yang kemerahan serta cekungan kecil lesung pipi Eric menambah ketampanan seorang Eric. Sebenarnya cinta lah biang keladi atas senyum manis simpul Eric ini, cinta lah alasan Eric bara api mata Eric berkobar dengan indahnya diantara kebekuan warna mawar ini.

“Saya tidak bisa menyalahkan anda kalau cinta membuat anda tampak seperti seorang anak kecil dengan permen kesayangannya, yang Mulia” sindir Joko, Eric tersentak, wajahnya memerah seketika entah karena sinar cahaya matahari senja atau karena malu.

“Ka..Kau? Aku tidak ada perasaan seperti itu, Ma…mana mungkin!. Dia itu Kekasih Raven, teman seumur hidupku…Ja ….”- Wajah Eric makin merah, Joko hanya bisa tersenyum melihat kelakuan malu – malu Eric-“ Dasar kau ini, kau…aku bisa saja memberhentikan mu setiap saat”

“Iya Yang mulia saya mengerti” namun Joko tak bisa menghentikan senyumnya

“sekarang juga bisa! “

“Iya saya akan Undur diri”

“bukan! Ma…maksud ku sana pergi! Jangan terus – terusan berada disni. Kata – kata mu itu bisa menimbulkan fitnah!” bentak Eric

“Iya saya mengerti Yang Mulia”

Tawa seorang Joko dan Eric begitu mebahana di seluruh ruang lingkup istana belenggeu mimpi seorang Pangeran Avalent. Seluruh penghuni istana selalu bertanya – tanya

Apakah itu tawa seorang Pangeran atau seorang Eric.

******


[1]               Malaikat bagi orang-orang yang tinggal di Lig

2 thoughts on “1 PRINCE & THE PAUPER (Part 2 ‘end’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s