2 UNREACHABLE HEART (part 1)

Dahulu ada sebuah mimpi, mimpi yang tua dan usang. Mimpi ini di takdirkan untuk terus berkembang dan menemukan jalannya untuk bisa kembali kedunia nyata, namun apa daya Edna? Dia lemah, hatinya tak setegar hati Sheeva, tak setenang tatapan Varundro ke Eligna, dan namun menggebu – gebu seperti tatapan Raven kepada Sheeva ketika Raven menyatakan perasaanya kepada Shee.

Pagi itu pagi yang cerah untuk memulai hari di rumah sakit pengungsi di Theadrent, Theadrent adalah sebuah pulau pengasingan bagi para prajurit dari berbagai kerajaan dan para pengungsi sekarat dari seluruh kerajaan pendiri Mal Cellestial, sebuah pulau yang luasnya tidak lebih dari 2000km2 didalamnya terdapat sebuah Rumahsakit paling terkenal di Lig lengkap dengan asramanya, tempat menanam tanaman obat-obatan yang cukup untuk mengobati orang dari seluruh penjuru dunia selama 1 tahun, gudang-gudang besar berisikan suplai makanan dan suplai obat-obatan terbesar dan terlengkap yang pernah ada, serta dilengkapi oleh sarana lengkap untuk memenuhi kebutuhan para dokter, pasien dan perawat dgn jumlah banyak. Pulau dengan hampir seluruh populasinya berprofesi sebagai tenaga medis ini diakui sebagai sebuah kerajaan kecil yang berdiri sendiri,

Theadrent adalah satu – satunya tempat yang jauh dari kekuasaan Valenor dan tak terjamah oleh semua hukum pemerintahan di LIG. Di sana Edna si pemilik jiwa Es yang bekerja sebagai kepala Healer Doctor bagian penanganan pasien baru dan seorang penyembuh yang menggunakan energi spesial bernama Heal untuk menyembuhkan orang. Menyembuhkan cedera luar dan luka dalam akibat perang, walau Edna tidak memiliki kekuatan untuk ini secara fasih dia memiliki batu bertuah atau disana disebut sebagai Oracle yang diberikan oleh Varundro sang pemilik jiwa Penyembuh.

Oracle adalah batu yang memiliki sedikit kekuatan langsung dari para elementers, adapun Semi Oracle buatan para shaman yang hanya bisa dipakai beberapa kali saja. Edna sedang berada di kamarnya di yang berada di dalam lingkungan rumah sakit itu, tepat berada di sebelah timur dermaga Theadrent. Kamar berwarna merah muda lembut dengan beberapa ornament berwarna putih, kamar itu lengkap berisikan perlengkapan medisnya yang tertata rapi, bersih, dan terlihat kaku. Edna sedang berdiri di dekat meja kerjanya membaca sebuah laporan, menurutnya tumpukan laporan ini cukup untuk membuatnya tertahan di bilik pribadi miliknya selama beberapa hari.

Tanpa suara ketukan seorang perawat dengan wajah panik, berbaju putih kemerah muda-an, ternodai oleh darah segar dari mulai tangan hingga wajahnya juga terciprat darah segar “Dokter Edna, ada pasien yang baru datang, mereka jumlahnya banyak sekali, katanya mereka berasal dari kerajaan Avalent” Sudah biasa hal ini terjadi, banyak kapal yang berlabuh atau diserang oleh monster laut ganas yang biasanya berada di perairan dan samudra luas di LIG, para makhluk ini menyerang kapal – kapal yang melintasi wilayah kekuasaan mereka.

“Baiklah.. segera sediakan ruangan untuk melakukan beberapa operasi, oh ya.. ada berapa jumlah mereka?” Tanya Edna sigap yang langsung merespon laporan si perawat itu.

“jumlahnya sangat banyak dok, mukin ada 300an orang lebih, sebaiknya anda secepatnya ke pelabuhan, mereka semua baru turun dari kapal perangnya.”

Seru siperawat sambil membantu Edna membawa perlengkapan kedokterannya, dia meraihnya tergesa – gesa, dengan nafas terseggal setelah berlari sepanjang koridor bangsal pasien baru dan beberapa ruangan gawat darurat, “huff” helaan nafas Edna lelah setelah membaca segunung laporan dengan teliti Enda meletakkan kerta yang dibacanya dan menggunakan baju tugas nya yang tergantung lemas di sudut ruangan sebelah meja kerjanya

“Hmm banyak sekali, kalau begitu kita butuh tenaga medis bantuan. Tolong panggil seluruh perawat cuti dan beberapa perawat penjaga pasien dari divisi kita untuk membantu. Sisanya tetap jaga keadaan pasien yang sedang dirawat!” perintah Eligna sigap, nada terbiasa tenang dengan sedikit bumbu ragu terselip di perkataannya tadi.

“baik dok…saya segera ke asrama untuk membuat pengumuman SITU *” angguk si perawat itu sambil memberikan Edna perlengkapanya, setelah keluar dari pintu bilik Enda yang penuh dengan ornamen lace dan rajutan yang tampak serasi dengan cahaya lembayung dari luar, perawat itu langsung berlari kearah asrama perawat yang ada di sebelah rumah sakit megah itu. Edna terus berpikir bagaimana ia harus menangani hal ini? Ini memang bukan pertama kalinya ia menangani lebih dari seratus org pasien, tapi dia selalu saja gugup setiap menghadapi pasiennya. Edna memiliki sifat feminim yang sangat lembut, dia tidak bisa melihat wajah penderitaan orang, figur yang sangat keibuan dan sensitif. Tapi apa boleh buat dia terpaksa berhadapan dengan hal ini setiap hari akibat dari undian konyol Eligna. Senyum manis nya merekah di sudut bibir tipis Edna, setiap kali mengingat pertaruhan itu dia selalu saja tersenyum geli. Namun ini bukan saatnya untuk tersenyum dalam hatinya. Cahaya terik matahari pagi menerpa wajah Edna yang seputih salju dengan bibir merah serta baju merah muda dan putih panjang hampir mirip sebuah tunik – nya melambai di terpa angin laut yang cukup kencang , ketika matanya terbuka di atas sebuah dock pelabuhan pribadi Theadrent terlihat sebuah kapal perang yang sangat besar yang sepertinya merupakan kapal pengangkut prajurit dengan beberapa lubang di bagian badan, lambung dan beberapa tiang – nya nyaris rubuh namun entah bagaimana caranya kapal itu bisa sampai kesini dengan selamat, dia melihat banyak sekali pelaut dan prajurit yang di tandu oleh sesamanya.

Ada beberapa dari mereka kehilangan kaki dan mata dan ada beberapa dengan keadaan sekarat, darah segar menodai baju kebesaran mereka, teriak dan tangis kepanikan mereka tidak terdengar indah di telinga Edna . Dia tahu dia harus sigap salah atau terlambat sedikit saja akan ada nyawa hilang. Sesaat setelah mendekati kapal itu Edna langsung menaiki tangga kapal yang menuju ke dek kapten kapal, dia melihat seorang lelaki sedang terduduk dan terlihat dari wajahnya dia menahan sakit yang amat sangat, saat Edna memperhatikan lelaki itu ia tahu kalau lelaki itu sudah kehilangan sebelah tangannya.

“ Apakah anda kapten dari kapal ini?” Tanya Edna kepada seorang lelaki itu, ia memakai baju kapten lengkap dengan pangkat yang disematkan di dadanya, namun pangkat kebesarannya sudah berlumuran darah bekas perjuangannya melawan sesuatu dan di tangannya terlihat bekas sayatan benda tajam , ia sedang duduk merunduk meratapai luka – luka di kakinya, di kursi yang biasanya di duduki kapten kapal, terletak tepat di samping kemudi kapal.

“Iya, benar saya kaptennya. Kapten Rednav, Ar…” seringai kesakitan menampakan seluruh gigi merah ternoda darahnya

“Arden Rednav. Anda?” jawabnya , sambil berusaha keras menahan sakit dan mengikat erat-erat tangannya yang sudah putus dengan kain lusuh berwarna merah darah, mungkin awalnya kain itu berwarna biru yang merupakan bagian dari baju kebesarannya.

“Saya kepala Tabib Dokter disini. Panggil saja saya Edna. Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai banyak sekali orang yang sekarat? Terlebih lagi sepertinya beberapa diantara mereka terlihat shock.” Tanya Edna kepada kapten Arden, sambil memanggil seorang perawat lelaki dengan sekonyong – kongongnya membawakan peralatan dan bahan kain perban untuk membantu Edna membersihkan luka Rednav.

“Pagi-pagi sekali saat kami sedang patroli di perairan Aravurie di dekat pelabuhan kerajaan Avalent, sebuah patroli biasa rutinitas kami setiap hari.” Seringai kesakitan menyela kata – katanya,

“Tiba-tiba kami di giring dan di hadang oleh 3 buah kapal yang memiliki layar berwarna hitam keperakan, mereka menyerang kami secara bertubi-tubi, walau kami sudah mengeluarkan bendera putih tanda ingin berkomunikas. Mereka tidak meresponnya dan terus-menerus secara membabi buta. Sampai akhirnya kami melarikan diri kearah utara dengan segenap kru yang tersisa. Kami kehilangan lebih dari 80 orang yang sangat berbakat dan berdedikasi untuk Avalent, tapi…”

“Tapi apa?” tanya Edna penasaran “Kami tidak sempat menolong kapal kami satunya lagi, dan sebelum kami begitu jauh meninggalkan mereka. Aku melihat…AHH!” jeritnya kesakitan saat Edna mencabut sebongkah serpihan kayu kapal dari paha kapten Rednav.

“Tidak apa-apa, lalu?” tanya Edna lagi penasaran, sembari membalut kaki sang kapten dengan perban seadanya sebelum di berikan perfawatan lebih lanjut. “Kami melihat, kapal sebesar ini di telan bulat – bulat oleh sesosok makhluk yang melilitkan tubuhnya di antara layar kapal itu yang patah” cerita kapten Arden sambil menitihkan airmata. Edna pun tidak berkutik, sembari menyeka luka Rednav dengan cairan khusus yang dibuat oleh para ahli ramuan di Theadrent. Seharusnya ketika cairan itu di seka kesebuah luka menganga akan terasa pedih, namun sepertinya luka hati kapten Rednav sudah begitu dalam hingga luka sebesar itu membuatnya tak berkutik.

“Menurutmu mereka berasal darimana? Apakah ada bendera yang menandakan mereka berasal dari kerajaan apa?” Tanya Edna penasaran “Tidak…tidak ada satupun lambang atau bendera yang berada di kapal mereka saat itu. Kami bahkan tidak yakin kalau itu adalah salah satu utusan dari kerajaan manapun di Mal Sirea. Bahkan orang – orang yang menyerang kami tidak terlihat seperti ras cahaya” Jawab kapten itu

“Mungkin saja mereka Foewin? Tapi sebaiknya untuk sekarang lebih baik anda ikut saya ke dalam rumah sakit, kami akan merawat anda” kata Edna dengan penuh rasa cemas, setelah selesai membalut perban di sekujur tangan seorang kapten bermata hitam pekat dan rambut panjang kecoklatannya tersebut.

“Tapi bagaimana para awakku?” tanya Rednav dengan air muka cemas.

“Tenang saja mereka sudah diberikan perawatan terbaik” jawabnya “Baiklah kalau begitu” desis pasrah Kapten Arden dengan nada lunglai, Edna tau kapten itu sudah hampir kehilangan banyak darah, wajahnya tampak begitu pucat dan keringatnya menetes begitu banyak. Saat berada di dekat pintu masuk sembari memapah kapten Arden, Edna langsung memberi aba-aba kepada dokter – dokter dan para perawat yang telah lebih dulu tiba di Sana, untuk segera memberikan pertolongan pertama. Edna merasa hal ini perlu ia segera beritahu kepada Eric, dan akhirnya ia memutuskan untuk ,menggunakan cirel, sesuatu yang sebenarnya dilarang namun untuk keadaan darurat boleh dipergunakan, menurut Edna ini darurat walaupun ada maksud lain di hatinya.

“Eric…Eric apa kau disana? Apa cirelku sampai kepadamu?” tanya Edna sambil menggosok anting berbentuk kristal es persegi enam indah yang menghiasi telinganya. “ya Edna..aku disini. Ada apa?” jawab Eric yang saat ini berada dalam kamar kerja pribadinya, dada Edna langsung berdegub tak karuan, mendengar suara Eric. “hmmmm…pagi ini ah, maksudku barusan aku menerima hampir 300 orang pasien. Katanya mereka berasal dari kapal perang Avalent. Mereka diserang oleh kapal misterius di laut Aravurie, Kaptennya bernama Arden Rednav” jawab Edna dengan nada sedikit senang, senang kalau Eric sudah mendengar cirelnya. “ Oh…masalah itu, ya aku sudah dengar dari jendral Petriere” jawab Eric sigap dengan nada sedikit kesal yang di tahannya. “Hmmm, baiklah kalau begitu itu bagus” tukas Edna kecewa “Tapi belum ada kabar berapa jumlah orang yang terluka, sekarat dan meninggal, apa kau punya informasi?” seperti sebuah telepati kekepalanya Edna menjadi begitu bersemangat menceritakan seluruh detil, Eric mendengarkan dengan seksama walau ia sedikit heran kelihatannya Edna senang ini terjadi.

******

2 thoughts on “2 UNREACHABLE HEART (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s