Unreachable Heart (Part 2)

Siang itu begitu terik di Hlapa opéle, kota yang mengapung diatas langit ini sangat besar dan menawan, penduduknya lebih cenderung cuek dan bergaya hidup kelas atas, gedung pencakar langit bertebaran diseluruh kota tentu saja sengan seluruh penataan kota yang baik. Kota megah ini begitu berbeda dari seluruh kota besar di bawahnya, lengkap dengan kesibukkan rakyatnya dan para penjaga yang berjaga selama 24 jam, kota ini merupakan salah satu kota tersibuk di LIG. Orang-orang di Lig percaya Hlapa opéle adalah kota yang jauh dari kejahatan Valenor, dan kota dimana orang-orang mewujudkan mimpinya.

Hlapa opéle bisa mengapung di udara, karena pecahan sphere Anthony. Walau pecahan itu tidak lebih besar dari sebuah batu kerikil kecil, tipis dan tampak rapuh, tetapi memiliki kekuatan dahsyat, kekuatan yang membuat Hlapa opéle terus mengudara di angkasa lebih dari 1700 tahun. Kekuatan yang tidak berbatas.

Anthony berada di Hlapa opéle siang itu ia bekerja sebagai seorang koki disalah satu resto mewah kegemaran orang dengan jabatan tinggi dan para bangsawan kelas atas di Hlapa opéle, ia sedang tidak bekerja hari ini dan hanya berjalan-jalan di pasar tradisional bernama Tayal, dalam bahasa draco artinya Pedagang. Tanpa diduga dia bertemu seorang sesama penghuni apartemen mewah di Hlapa opéle. Kehilangan sedikit pecahan sphere tidak membuatnya melemah, ia hanya merasakan mudah lelah.

“Selamat siang tuan Anthony.” Sapa lelaki frivole itu, ia memakai sebuah rompi kecoklatan dengan kemeja putih bersih, kaca mata bulat tebal tersemat di hidungnya yang mancung, bengkok dan besar itu, gurat – gurat tua menghiasi senyumnya.

“Selamat siang juga pak Carlo, sedang apa anda disini? Bukannya seharusnya anda masih berada di Avalent?” Tanya Anthony sekedar basa basi. Carlo bekerja sebagai pengurus administrasi di kantor pemerintahan Hlapa opéle, dimana semua orang selalu keluar masuk Hlapa opéle untuk memantau keadaan di bawah, beberapa minggu lalu Hlapa opéle melewati kerajaan Avalent.

“Yah saya baru pulang tadi pagi, dan sekarang sedang belanja untuk keperluan mingguan.” Jawabnya santai.

“Wah bukannya biasanya istri anda yang keluar belanja setiap hari? Apakah ia baik-baik saja?”

“Bukan, dia baik-baik saja” Sejenak Ant melihat selelebat kekhawatiran dan kerisauan menghiasi senyumnya, setelah membelai lembut rambut klinis kecoklatannya ia melanjutkan “Ini tentang anak kami Chimi, ia sedang tidak enak badan, jadi Cherine yang menjaganya dirumah selama 24 jam, Chimi hanya mau berbicara dengan ibunya buka ayahnya” jawabnya lagi, kali ini kekecewaan yang melintas. Sungguh Anthony ingin tersenyum, tapi ia cukup menyimpan nya dalam hati. Lelaki ini sungguh penuh ekspresi walau sebaik apapun ia menutupinya, sinar matanya itu tidak akan bisa membohongi orang-orang yang peduli padanya.

“Ya, sekarang memang sedang musimnya sakit flu di Hlapa opéle, banyak teman seprofesiku yang terkena flu, karena perubahan cuaca aku rasa. Kalau begitu Chimi tidak boleh keluar rumah” sambung Ant, kali ini gurat kecewa mendenyut di sudut mata dan bibir Carlo.

“Iya, karena itu istriku menyuruhku untuk belanja. Hahahahaha dan yang lebih parah Chimi tidak mau makan sama sekali, itu yang membuat istriku semakin khawatir” tawa sarkastiknya juga menggelitik perut Anthony untuk tertawa. Ayolah Ant kau tidak boleh tertawa melihat pak Carlo yang mengkhawatirkan anaknya seperti ini.

“hummm…..hari ini saya sedang cuti, bagaimana kalau saya masakkan sup yang mudah dicerna oleh anak sekecil Chimi dan menggugah seleranya untuk makannya?” Tanyanya lagi. Anthony memang suka sekali dengan anak-anak. Memang diantara elementer yang lain, dia jugalah yang paling bisa masak, untung saja dia di tempatkan di Hlapa opéle. Dan menjadi seorang koki bukanlah hal yang sulit , walaupuan sebenarnya ia menginginkan sebuah tempat dengan lebih banyak humor seperti sirkus. Sirkus Hypnotica selalu menggugah minatnya.

“Benarkah? Tuan Ant tidak usah repot-repot, bukankah seharusnya ini hari anda beristrirahat?” kata Carlo, sungkan. Namun rona merah wajahnya menjadi-jadi. Kali ini Anthony sudah tidak bisa menahannya. Tawanya menggelegar menjadikan mereka pusat perhatian.

Carlo berusaha untuk menghentikan tawa terbahak Anthony, namun apa daya inilah dia seorang Ayah yang bahkan tak mampu membuat anaknya bangga. Ia selalu salah menggunakan bahasa manusia, di Isiaris dahulu mereka menggunakan bahasa frivole setiap hari. Dinginnya suhu di Isiaris membuatnya jarang di kunjungi oleh orang luar yang menggunakan bahasa remi Celeste ini.

“Maksud anda BERISTIRAHAT?” Ant sedikit menekan kata ‘beristirahat’ nya itu

“Ya itu maksud saya”

“Wah tidak apa-apa pak Carlo. Anda sudah banyak menolong saya selama saya disini, baru kali ini lah saya bisa berbuat sesuatu untuk anda” kata Anthony lagi, air matanya keluar perut Ant mengocok begitu dahsyat tapi Ant berusaha untuk menghentikan tawanya sesegera mungkin ia tau Carlo malu dengan tatapan orang kearah mereka seperti mereka adalah parade sirkus Hypnotica yang sebentar lagi akan menghampiri Hlapa opéle akhir minggu ini.

Semilir angin sepoy-sepoy nan sejuk berhembus hangat menyelimuti kota Hlapa opéle, itu tandanya Anthony sedang kegirangan.

“Ahahahah terima kasih tuan, bagaimana kalau kita pulang bersama? Saya membawa kendaraan kesini anda bisa menumpang, ketimbang jalan kaki dengan belanjaan sebanyak itu” tawar Carlo sambil menunjukkan sebuah bungkusan besar di kedua tangan Ant dan sebuah tas punggung kebiruan dengan isinya yang menggunung bergantung di punggung Anthony dengan kepalanya, kali ini tampaknya ia sudah sedikit rileks.

“Boleh saja, kebetulan sekali saya belanja sampai lupa menyisakan ongkos untuk pulang hehe” yah Anthony tak menolak jika ada tawaran seperti itu, semua temannya tau Anthony paling benci jalan kaki, itu membuatnya merasa seperti katak yang berusaha berdiri dan berjalan bagai seorang aristokrat.

Sesampainya si tempat mereka tinggal, Anthony langsung bergegas masuk ke apartemennya untuk menyimpan persediaan belanjanya. Lalu ia menyusul Carlo ke lantai empat belas apartemennya. Tepat dimana Carlo dan keluarganya tinggal. Sesampainya di depan pintu dia langsung mengetuk pintu “tok…tok…tok”

“Siapa? Tunggu sebentar” Tanya suara dari dalam. Suara seorang wanita, itu pasti istrinya Carlo, begitu pikirnya.

“ini aku Anthony yang tinggal di flat 508” jawabnya.

“Tunggu sebentar, ya tuan Anthony” jawab suara lembut keibuan dari dalam. Begitu pintu yang terpahat indah dan mahal itu dibuka, langsung muncul sesosok wanita yang begitu muda, anggun dan cantik. Rambut kemerahannya melambai indah, baju daster bemotif bunga matahari nya juga melambai indah menutupi seluruh kulit putih pucatnya yang beraroma bunga musim semi. Anthony sering berfikir anginnya selalu membawakan aroma seluruh orang di dunia ini kepadanya, terlebih lagi aroma Edna yang manis dan seperti gula kapas. Tetapi kenapa tidak membawakan pesan hatinya ke Kara?

“Selamat siang nyonya Cherine” kata Anthony dengan ramah sambil membawa sekeranjang bahan baku membuat sup hangat.

“Wah tuan Anthony, saya dan suami saya sudah menunggu anda, silahkan masuk, jangan sungkan yah” jawabnya ramah, rambutnya

“Hehehehe terima kasih nyonya” Anthony adalah seorang pemuda dengan rambut hitam kecoklatan dan dengan mata hazelnya ia sering memikat orang disekitarnya, namun cengegesan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kepribadiannya. Ant langsung masuk tanpa sungkan. Begitu ia masuk, sambutan hangat dari berbagai penjuru tembok ruangan ini membuatnya merasa nyaman entah bagaimana, diruangan ini ia melihat ruang tamu yang begitu rapih dan lumayan besar lengkap dengan pernak-pernik perhiasan guci-guci yang indah menunjukkan keluarga Carabino ini menyukai guci, lampu Kristal mahal menggantung ditengahnya  serta di kelilingi oleh lampu-lampu kecil,  ada beberapa rak buku tertata rapih tanpa debu warnanya senada dengan dinding ruangan tersebut yang berwarna krem hangat berpadu dengan putih gading, lalu ditengahnya ada sofa yang terbuat dari bulu binatang kecoklatan dan sangat cocok dipadankan dengan keadaan disekelilingnya dan di sofa itu sedang duduk Carlo yang sedang membereskan belanjaan yang terlihat dijatuhkan olehnya secara sembrono.

“wah ada apa ini?” Tanya Anthony

“Biasa kecerobohan Carlo yang sedang panik” kata istrinya entang memaklumi, sepertinya ia sudha terbiasa dengan seluruh kesembronoan Carlo.

“Selamat siang Anthony, kita bertemu lagi eheheheheh” kata Carlo mendongak mendengar langkah Anthony yang mendekatinya,

“Mari saya bantu pak” tawar Anthony

“Tidak usah repot tuan, saya bisa menangani ini” jawab Carlo tanpa menoleh kearah Anthony.

“Ini tidak akan mengganggu saya pak” jawab Anthony sembari membungkuk bersama Cherine yang memegang sapunya, namun tiba-tiba terdengar suara anak kecil nyaring memanggil sang ibu.

“IIBBUUUUU” suara itu memanggil ibunya sambil menangis.

“ah maaf tuan Anthony sepertinya Chimi memanggil” kata Cherine

“Oh tidak apa-apa” jawab Anthony lagi

“Istriku Chimi memanggil sebaiknya kau segera bergegas kesana, aku yang akan menemani dan melayani tuan Anthony disini” kata Carlo lembut kepada istrinya, Cherine pun langsung tersenyum lembut dan mencium pipi Carlo dan langsung bergegas menuju kesebuah kamar di pojok kiri ruangan, pintunya dihiasi dengan sebuah nama yang melekat dan banyak gambar-gambar khas anak lelaki yang menunjukkan kalau itu adalah kamar anak kecil berumur kira-kira 5 sampai 10 tahun.

“Maafkan kami tuan Anthony atas semua kekacauan ini. Chimi sangat rewel kalau sedang sakit” sambil tetap memunguti 3 buah apel barang terakhir yang mereka bereskan.

“Tidak masalah, Chimi masih sangat kecil, dia baru berumur 7 tahun kan?” sambung Anthony.

“Uhmmm… tidak dia sudah berumur 8 tahun empat bulan lalu, kami sudah mengundang anda ke pesta ulang tahunnya, dan anda membuatkannya sebuah hadiah tak terlupakan bagi keluarga ini” tutur Carlo memandang Anthony heran namun senyum akrab menghiasi bibir tanpa kumisnya yang rapih, kenapa ia tidak ingat tragedi ulang tahun Chimi waktu itu? Itu semua berkat Anthony, pesta ulang tahun Chimi ke-8 menjadi lebih meriah dari biasanya. Anthony membuatkannya kue ulang tahun berbahan dasar kentang, gula berwarna warni, dan permen. Seluruh teman undangan Chimi yang seumuran dengannya menjadi begitu liar, melompat kesana kemari membuat kerusuhan setelah mengkonsumsi karbohidrat dan gula berlebih.

“Oh ia benarr… maaf saya lupa, ahahahahah” jawab Anthony enteng, Anthony itu seseorang yang bermasalah dengan amnesia singkat yang cukup akut. Sebenarnya itu bukanlah penyakit, menurut Varundro itu hanyalah wujud atas ketidak pedulian dan ke tidak acuhan Anthony terhadap seluruh leluconnya ataupun seluruh hal yang tidak ingin diingatnya.

“Itu adalah hal terhebat yang pernah kami alami tuan. Anda tau? Itu adalah hal baru di keluarga ini, dan sangat menyegarkan kalau kami mengingat semuanya” jawab Carlo ramah, namun singkat ia harus segera ke dapur menyusun belanjaan.

“Pak boleh saya melihat keadaan Chimi? Apa dia sudah di bawa ke Healer Doctor atau setidaknya ke shaman?” Tanya Anthony.

“Sudah, itu dia masalahnya semua obatnya harus diminum sesudah makan, tapi dari pagi sampai siang ini Chimi sama sekali belum menyentuh buburnya” jawab Carlo dengan raut wajah yang begitu cemas.

“Boleh saja” angguknya sembari melanjutkan kegiatan menyusun belanjaannya itu, ia langsung menunjukkan jalan kearah kamar Chimi yang berada di dekat sudut kiri ruangan itu.

“Chimi, ini kakak Anthony datang menjenguk mu” kata Carlo sambil membuka pintu, terlihat disitu Cherine sedang duduk di pinggiran sebuah tempat tidur mini berornament dengan sudut lembut dan tegas khas kerajinan Frivole dan berusaha menyuapi Chimi dengan semangkuk bubur yang terlihat sangat lezat namun Chimi membentengi dirinya meringkuk didalam selimut berwarna biru muda itu tanda dia menolak memakan bubur itu.

“Allow Chimi, koq buburnya tidak mau dimakan?” Tanya Anthony, ia melangkah mendekati benteng pertahanan terhebat seorang anak berumur 8 tahun itu.

“enggak mau, Chimi enggak mau makan” kata nya, suaraunya begitu parau, Ant tidak mengerti keadaan apa ini,

“kenapa koq gak mau makan?” Tanya Anthony lagi kali ini nada suaranya sedikit lebih lembut

“karena….hiks. enggak mau bilang nanti diketawain!!” katanya

“Chimi kalau tidak dibilang mana yang sakit bagaimana ibu mau tau kamu maunya apa sayang” kata Cherine dengan suara lembut nan galau, Cherine begitu mengkhawatirkan anaknya. Sama seperti Carlo suaminya, Cherine adalah seorang wanita ekspresif, seluruh perasaanya akan ter[ancar dari mata, airmuka dan tingkah lakunya walau terselimuti sosok keibuan dan kelembutannya.

“hummm…bagaimana kalau kita berbicara berdua saja, sebagai seorang laki-laki” Usul Anthony kepada Chimi. Biasanya ini berhasil membujuk seorang anak kecil laki-laki.

“Bagaimana menurutmu hah? Kita kan sama-sama lelaki kuat disini mukin aku akan mengerti perasaanmu, tapi kau harus bilang kenapa kamu enggak mau makan yah”

“Huuh mau, tapi janji yah jangan bilang sama ibu dan ayah” jawab Chimi dengan perlahan membuka benteng pertahanan terkuatnya. Secara perlahan bagai seekor kupu – kupu dalam masa metamorfosis anak itu tampak begitu dewasa namun tetap saja air mata di sudut – sudut matanya menandakan gejolak pikiran dan hatinya.

“kok begitu Chimi? Kenapa ayah enggak boleh ikut? Ayah kan lelaki juga? Anas ashchri akhta jo” Bujuk Carlo, sosok anak kecil itu hanya membalasnya dengan gindikan bahu, rambut kemerahan halusnya membelai lembut telapak tangan Ant.

“sudah ayah, ahal kita keluar, biar para lelaki muda jagoan kita ini menyelesaikan masalahnya” kata Cherine tanda mengerti.

“ahhh ayah khan juga masih amujo” kata Carlo.

“ayo ayah” Bujuk Cherine sambil mendorong Carlo keluar pintu. Setelah itu iapun menutup pintu itu dengan senyuman ramah kepada Anthony.

“Para lelaki muda, aku dan Carlo akan menunggu kalian di ruang tamu” sahut Cherine dari luar pintu.

“ Nah…sekarang cerita kenapa kamu enggak mau makan buburmu? Kapan mau sembuhnya kalau begini?” Tanya Anthony penasaran.

“Sebenernya…Chimi enggak mau sembuh” jawabnya membuat Anthony kaget, mata Chimi begitu besar dan bulat khas Frivole dengan kornea mata yang berada di pinggiran hijau matanya

“Kenapa? Kan enak kalau sembuh, bukannya Chimi setiap hari menunggu untuk datang kesekolah?” Tanya Anthony lagi

“karena. INI SEMUA SALAH MEILINA!!!” jawabnya dengan nada setengah kkesal dan sedikit malu dari perkataanya tadi.

“Hah? Siapa itu? Kok bisa?” Tanya Anthony.

“Meilina 2 hari lalu mencium pipi Cimi. Cimi jadi enggak bisa masuk kekelas. Pelajaranpun enggak ada yang masuk ke otakku. Semuanya buyar waktu ngeliat Meilina” jawabnya

“wahhhhhhhhhhhhh” Anthony kaget mendengarnya, dia tau itu artinya Chimi sudah mulai suka sama seorang anak perempuan yang ada di sekolahnya, mungkin karena ini dia jadi tidak enak melakukan semuanya.

“jadi Chimi harus gimana kak Anthony?”jawab Chimi

“hummm…itu namanya Chimi sedang menyukai anak itu” jawab Anthony sambil tersenyum

“enggak kok. Chimi benci sama Meilina, kalau dia enggak gitukan Chimi biasa ajah. Dasar semua anak perempuan merepotkan, mereka Cuma mau bikin malu Cimi.” katanya

“hahhhhh…jangan bilang begitu, memang sih ada benarnya.” Jawab Anthony yang merasa malu ia bisa merasakan perasaan beratnya kata – kata Chimi tadi, perempuan memang merepotkan. Makhluk lemah lembut, gemulai, dengan hati sekeras baja, perkataan setajam pisau itu adalah hal merepotkan, dan susah dimengerti. Anggukan universal seorang Ant mau tak mau menyetujui perkataan anak berumur 8 tahun itu.

“Benarkan…memang kakak Anthony paling bisa mengerti Chimi” kata Chimi.

“Tapi kalau tidak kunjung sembuh semua orang pasti sedih, semua orang yang sayang sama Chimi, ayah, ibu, teman-teman di sekolah, guru, dan juga kakak, pasti sedih” jelas Anthony.

“kok sedih? Bukannya seharusnya senang? Ayah tidak akan repot mengantarkan Cimi berangkat kesekolah lagi setiap hari.” Keningnya mengernyit halus, tatapan polos itu sekarang dinodai rasa penasaran dan bersalah.

“iya karena kami semua menganggap Chimi sebagai sesorang yang sangat berharga dan perlu dijaga” jawab Anthony, dengan senyum sepolos anak kecil ini.

“ih..kakak, Chimi kan jadi malu.” Katanya dengan muka memerah

“begini saja bagaimana kalau kakak bantu, kakak bakal masakin makanan enak yang enggak pernah Chimi makan, yang bakal memberi kekuatan buat menghadapi Meilina?” usul Anthony.

“memanganya ada makanan kaya gitu?” Tanya Chimi.

“tentu ada aku kan koki terbaik se Hlapa opéle. Heheheh pasti bisa” katanya

“mau-mau” jawab Chimi antusias, Chimi memang penggemar masakan Anthony yang sudah terkenal di kalangan atas di Hlapa opéle.

“baiklah, tapi janji besok Chimi sudah harus sembuh dan pergi kesekolah” katanya

“ahhhh…kakak pikir Chimi bisa di pujuk segitu mudah” kata Chimi lagi, membuat Anthony kaget anak sekecil ini sudah tidak bisa disogok oleh makanan seperti dulu lagi.

“jadi maunya gimana?” Tanya Anthony dengan tatapan dan senyum licik

“Chimi mau kakak ngajak Chimi jalan ke pusat kota Hlapa opéle dan beliin Chimi permah[1] di toko permen yang baru buka di Tayal, Chimi dengar dari Fabi kalau toko itu katanya juga terbuat dari jutaan parmah.”jawabnya

“Dan itu sudah bohong namanya. Kakak baru saja dari Tayal disanalah kakak beremu ayah Chimi”jawab Anthony dengan yakin”Ya sudah. Sebenarnya sih..kakak mau buatin eggtart yang pake coklat dan caramel itu, tapi kayaknya Chimi enggak minat” kata Anthony meyakinkan, dia tau anak-anak tidak bisa menolak eggtart buatannya yang enak itu.

“eh mau-mau” sontak jawaban anak yang terperangkap ke dalam jebakan Anthony.

“yahhh…katanya mau permen, Chimi harus milih salah satu lho” kata Anthony lagi

“yahhhhh, curang ih” kata Chimi

“Hayooo, kalau pilih egg tart Anthony yang terkenal itu, bakal dibuatin banyak deh untuk bekal Chimi disekolah dan dibagi-bagikan ke teman-teman Chimi. Tapi kalo permen paling kakak Cuma bisa beliin satu. Gimana?” Tawarnya lagi, Chimi dihadapi dalam pilihan sulit, dia suka kedua-duanya, tapi jarang sekali bisa makan eggtart terkenal itu, lagipula dia pasti bangga sama teman-temannya kalau dia bisa bawa eggtart itu sebagai bekal kesekolahnya.

Loch im a, egg tart saja yah. Dan kalau kak Anthony yang membuatkannya Chimi bisa pamer ke Fabi sombong itu hahahah yay.” jawab Chimi.

Loch lam? Janji yah, jangan berubah pikiran.” Tanya Anthony

Loch im” jawab Chimi lagi sambil mengangguk tanda setuju. Anthony sudah lama tidak menggunkan bahasa frivole itu. Lidahnya sedikit kaku dan bibirnya juga sudah membeku hanya dengan menyebut Loch (dibaca: Lou-kh, artinya: ok, iya[tanda setuju]).

“Nah sekarang kakak harus masak sup hangat yang enak, buat Chimi, tapi ingat harus dimakan yah.” Kata Anthony

“iyaaaaa, hehehehehe” jawab Chimi semangat. Lega Anthony mendengarnya, dia langsung bergegas keluar pintu kamar Chimi dan langsung berbicara kepada Cherine, dan meminta izin untuk menggunakan dapurnya. Begitulah keseharian Anthony di Hlapa opéle. Nyaman damai dan seperti tidak tersentuh oleh keadaan yang terjadi di bawah sana yang sudah mulai kacau dengan adanya perang dimana-mana. Kehilangan keluarga dan sanak saudara bahkan nyawa sudah merupakan hal yang terjadi slama beberapa tahun ini, apa lagi setelah keadaan mulai memanas. Hlapa opéle sangat tidak tersentuh oleh bayangan awan berselimut kegelapan gelap sang penguasa kegelapan.


[1] Sejenis  permen berbentuk naga kenyal,manis, sedikit asam dan gurih yang sangat digemari anak-anak di Hlapa opéle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s